Kamis, 19 Mei 2011

MAKALAH PRAKTIKUM PAKAN ALAMI

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Usaha budidaya ikan pada dewasa ini nampak semakin giat dilaksanakan baik secara intensif maupun ekstensif. Usaha budidaya tersebut dilakukan di perairan tawar, payau, dan laut. Selain pengembangan skala usaha, ikan yang dibudidayakan semakin beragam jenisnya.
Salah satu faktor pendukung dalam keberhasilan usaha budidaya ikan adalah ketersediaan pakan, dimana penyediaan pakan merupakan faktor penting di samping penyediaan induk. Pemberian pakan yang berkualitas dalam jumlah yang cukup akan memperkecil persentase larva yang mati. Jenis pakan yang dapat diberikan pada ikan ada dua jenis, yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami merupakan pakan yang sudah tersedia di alam, sedangkan pakan buatan adalah pakan yang diramu dari beberapa macam bahan yang kemudian diolah menjadi bentuk khusus sesuai dengan yang dikehendaki.
Sasaran utama untuk memenuhi tersedianya pakan adalah memproduksi pakan alami, karena pakan alami mudah didapatkan dan tersedia dalam jumlah yang banyak sehingga dapat menunjang kelangsungan hidup larva selama budidaya ikan, mempunyai nilai nutrisi yang tinggi, mudah dibudidayakan, memiliki ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva, memiliki pergerakan yang mampu memberikan rangsangan bagi ikan untuk mangsanya serta memiliki kemampuan berkembang biak dengan cepat dalam waktu yang relatif singkat dengan biaya pembudidayaan yang relatif murah. Upaya untuk memperoleh persyaratan dan memenuhi pakan alami yang baik adalah dengan melakukan kultur fitoplankton.
Salah satu jenis fitoplankton yang digunakan pada kegiatan pembenihan ikan, yaitu Tetraselmis sp.. Pembudidayaan plankton jenis Tetraselmis sp. tergantung pada kondisi lingkungan perairannya, serta diperlukan paket teknologi budidaya yang baik. Budidaya plankton berbeda di tiap-tiap Negara sesuai dengan kondisi alamnya, misalnya Indonesia adalah Negara tropis dimana suhu airnya relatif sama sepanjang tahun dibandingkan dengan Negara lain termasuk Jepang (Mujiman, 1984).
Dalam kultur fitoplankton ada dua tujuan, yaitu monokultur dan kultur murni. Bila hendak mengkultur fitoplankton sebagai makanan zooplankter cukuplah membuat monokultur, misalnya sebagai makanan untuk Brachionus plicatilis, yang hidup di air payau. Tetapi bila mengkultur fitoplankter untuk keperluan genetika, fisiologi atau siklus hidup harus mengkultur fitoplankter yang bersangkutan secara murni, artinya tanpa adanya bakteri (Sachlan, 1982).
Untuk menyediakan makanan dalam jumlah yang cukup, tepat waktu dan berkesinambungan, pengetahuan tentang teknik kultur murni fitoplankton yang baik mutlak diketahui oleh mereka yangbergerak di bidang usaha perikanan baik dalam skala besar maupun kecil. Mengingat pentingnya pakan alami tersebut sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan usaha pembenihan ikan dan udang, maka penulis berpendapat perlu dilakukan pengamatan kultur fitoplankton Tetraselmis sp. secara intensif untuk memperkaya pengetahuan dalam rangka sumbangsih ilmu pengetahuan di bidang perikanan.

B. Tujuan
1. Mengetahui cara budidaya Tetraselmis sp. skala laboratorium dan kultur massal
2. Mengetahui pertumbuhan Tetraselmis sp. pada medium yang berbeda baik skala lab maupun secara kultur massal.

C. Manfaat
1. Dapat mengetahui cara budidaya Tetraselmis sp. secara skala lab dan kultur semi massal
2. Dapat mengetahui pertumbuhan Tetraselmis sp. pada medium tumbuh yang berbeda.




II. METODE
A. Alat dan Bahan
Alat
1. Erlemeyer
2. Pengaduk
3. Botol film
4. Mikroskop
5. Gelas objek
6. Cover glass
7. Pipet
8. Aerator
9. Gelas ukur
10. Toples
11. Tissue
12. Ember
13. Refraktometer
14. Kertas pH

Bahan
1. Air laut
2. Air tawar
3. Mikro alga Tetraselmis
4. Medium f/2 (NaNO3, NaH2PO4.H2O, Trace element @ 1ml dan 0,5 ml vitamin)
5. Medium walne (macro element, trace elemen @ 1 ml dan 0,1 ml vitamin)
6. Medium modifikasi (KNO3, NaH2PO4, FeCl, EDTA dan vitamin F/2)
7. Aquades
8. Formalin

B. Cara Kerja
KULTUR SEMI MASSAL
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Melakukan pengenceran menggunakan air laut dan air tawar untuk mendapatkan salinitas yang diinginkan
3. Membuat medium f/2 dan medium modifikasi dengan bahan yang sudah ditentukan
4. Memasukkan medium yang sudah dibuat ke dalam stoples dan mengisinya dengan Tetraselmis yang sudah dihitung terlebih dahulu
5. Tempatkan di dalam ruangan yang dingin dan di beri aerator
6. Melakukan pengamatan salinitas, pH dan kepadatan mikroalga selama 4 hari





III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
(Terlampir)
B. Pembahasan
Menurut Burlew (1995) mengklasifikasikan kedudukan Tetraselmis chuii
sebagai berikut :
Filum : Chlorophyta
Kelas : Chlorophyceae
Ordo : Volvocales
Sub ordo : Chlamidomonacea
Genus : Tetraselmis
Spesies : Tetraselmis sp.
Tetraselmis sp. termasuk alga hijau, mempunyai sifat selalu bergerak, berbentuk oval elips, mempunyai empat buah flagella pada ujung depannya yang berukuran 0,75-1,2 kali panjang badan dan berukuran 10x6x5 µm.
Menurut Mujiman (1984), Sel-sel Tetraselmis sp. berupa sel tunggal yang berdiri sendiri. Ukurannya 7-12 µm, berkolorofil sehingga warnanya pun hijau cerah. Pigmen penyusunnya terdiri dari klorofil. Karena memiliki flagella maka Tetraselmis dapat bergerak seperti hewan. Pigmen klorofil Tetraselmis sp. terdiri dari dua macam yaitut karotin dan xantofil. Inti sel jelas dan berukuran kecil serta dinding sel mengandungbahan sellulosa dan pektosa.
Tetraselmis tumbuh dengan kondisi salinitas optimal antara 25 dan 35 ppm (Fabregas et al, 1984). Menurut Griffith et al (1973) mengatakan bahwa Tetraselmis sp. masih dapat mentoleransi suhu antara 15-350C, sedangkan suhu optimal berkisar antara 23-250C.
Reproduksi Tetraselmis sp. terjadi secara vegetatif aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual dimulai dengan membelahnya protoplasma sel menjadi dua, empat, delapan dalam bentuk zoospore setelah masing-masing melengkapi diri dengan flagella. Sedangkan reproduksi secara seksual, setiap sel mempunyai gamet yang identik (isogami) kemudian dengan bantuan substansi salah satu gamet tersebut ditandai dengan bersatunya kloroplast yang kemudian menurunkan zygote yang sempurna (Erlina dan Hastuti, 1986).
Parameter Pertumbuhan Fitoplankton:
1. Nutrien
Nutrient dibagi menjadi menjadi makronutrien dan mikronutrien. Nitrat dan fosfat tergolong makronutrien yang merupakan pupuk dasar yang mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton. Nitrat adalah sumber nitrogen yang penting bagi fitoplankton baik di air laut maupun air tawar. Bentuk kombinasi lain dari nitrogen seperti ammonia, nitrit dan senyawa organic dapat digunakan apabila kekurangan nitrat (Cotteau, 1996; Taw, 1990)
2. Suhu
Suhu optimal kultur fitoplankton secara umum antara 20-24 °C. hampir semua fitoplankton toleran terhadap suhu antara 16-36 °C. Suhu di bawah 16 °C dapat menyebabkan kecepatan pertumbuhan turun, sedangkan suhu di atas 36 °C dapat menyebabkan kematian pada jenis tertentu (Cotteau, 1996; Taw, 1990).
3. Cahaya
Cahaya merupakan sumber energy dalam proses fotosintetis yang berguna untuk pembentukan senyawa karbon organic. Kebutuhan akan cahaya bervariasi tergantung kedalaman kultur dan kepadatannya. Intensitas cahaya yang terlalu tinggi dapat menyebabkan fotoinbihisi dan pemanasan. Intensitas cahaya 1000 lux cocok untuk kultur dalam Erlenmeyer, sedangkan intensitas 5000-10000 lux untuk volume yang lebih besar (Cotteau, 1996; Taw, 1990).

4. Karbondioksida
Karbondioksida diperlukan fitoplankton untuk membantu proses fotosintesis. Karbondioksida dengan kadar 1-2 % biasanya sudah cukup untuk kultur fitoplankton dengan intensitas cahaya yang rendah. Kadar karbondioksida yang berlebih dapat menyebabkan ph kurang dari batas optimum (Cotteau, 1996; Taw, 1990).
5. pH
Variasi pH dapat mempengaruhi metabolism dan pertumbuhan fitoplankton dalam beberapa hal, antara lain mengubah keseimbangan dari karbon organic, mengubah ketersediaan nutrient, dan dapat mempengaruhi fisiologis sel (Dorling er. Al., 1997). Kisaran pH untuk kultur alga biasanya antara 7-9, kisaran optimum untuk alga laut antara 7.5-8.5 sedangkan untuk Tetraselmis chuii optimal pada 7-8 (Cotteau, 1996; Taw, 1990).
6. Salinitas
Hampir semua jenis fitoplankton yang berasal dari air laut dapt tumbuh optimal pada salinitas sedikit di bawah habitat asalnya. Tetraselmis chuii memiliki kisaran salinitas yang cukup lebar, yaitu 15-36 ppt sedangkan salinitas optimal untuk pertumbuhannya adalah 27-30 ppt (Cotteau, 1996; Taw, 1990).

Laju pertumbuhan Tetraselmis sp. adalah pertambahan jumlah Tetraselmis sp. dalam periode tertentu. Pada kultur skala lab parameter waktu per jam sedangkan pada kultur skala semi massal parameter waktu per hari. Pertumbuhan microalgae secara umum dapat dibagi menjadi lima fase meliputi fase lag, fase eksponensial, fase penurunan kecepatan pertumbuhan, fase stasioner, dan fase kematian. Pada fase lag pertambahan densitas populasi hanya sedikit bahkan cenderung tidak ada karena sel melakukan adaptasi secara fisiologis sehingga metabolisme untuk tumbuh lamban. Pada fase eksponensial pertambahan kepadatan sel (N) dalam waktu (t) dengan kecepatan pertumbuhan (µ) sesuai dengan rumus fungsi eksponensial. Pada fase penurunan kecepatan tumbuh pembelahan sel mulai melambat karena kondisi fisik dan kimia kultur mulai membatasi pertumbuhan. Pada fase stasioner factor pembatas dan kecepatan pertumbuhan sama karena jumlah sel yang membelah dan yang mati seimbang. Pada fase kematian kualitas fisik dan kimia kultur berada pada titik dimana sel tidak mampu lagi mengalami pembelahan. Waktu generasi microalgae adalah waktu yang dibutuhkan oleh mikro algae untuk sekali membelah menjadi dua.
Kultur Semi Massal
Praktikum budidaya Tetraselmis sp. skala semi massal dilakukan dengan menggunakan air laut yang diperkaya medium Guillard f/2 dan modifuikasi pada salinitas 28‰, pH 7-8. Kemudian kultur stok ditempatkan pada tempat yang dingin dengan diberi aerator. Pengamatan dilakukan setiap satu hari sekali dengan dua kali ulangan. Pengamatan dilakukan dengan mengambil 0,5 ml stok kultur kemudian ditambah dengan 0,5 ml formalin dan catat nilai salinitas dan pH. Setelah itu diamati dengan mikroskop, catat banyaknya Tetraselmis sp. yang teramati dan hitung kepadatannya.
Hasil praktikum menunjukan bahwa kecepatan tumbuh pada medium modifikasi lebih cepat daripada medium f/2. Hal tersebut terlihat dari warna medium modifikasi yang lebih hijau dibanding pada medium f/2 dan dari hasil penghitungan kepadatan. Warna hijau tersebut menunjukan banyak sedikitnya Tetraselmis sp. yang terdapat pada medium. Hasil penghitungan kepadatan diketahui bahwa kepadatan Tetraselmis sp. pada medium modifikasi lebih besar. Hal tersebut dapat disebabkan karena kandungan nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan Tetraselmis sp. pada medium modifikasi lebih lengkap daripada kandungan nutrisi pada medium f/2.
Berdasarkan tabel anova budidaya Tetraselmis sp. pada skala laboratorium, pertumbuhan pada medium f/2 dan modifikasi tidak beda nyata. Hal tersebut dapat disebabkan karena kedua medium tersebut sama-sama mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh Tetraselmis sp. untuk tumbuh meskipun komponen pada kedua medium berbeda.





IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Cara budidaya Tetraselmis sp. dilakukan pada skala laboratorium dan semi massal.
Budidaya Tetraselmis sp. dilakukan dengan menggunakan medium Guillard f/2, Walne, dan medium modifikasi.
2. Berdasarkan hasil praktikum pertumbuhan Tetraselmis pada medium yang berbeda pada
Skala laboratorium dan kultur semi massal tidak terdapat beda nyata yang ditunjukkan pada pertumbuhannya setelah dilakukan pengujian menggunakan tabel anova.

B. Saran
1. Penjelasan lebih banyak lagi tentang pembahasan mengenai data hasil praktikum sehingga
praktikan benar-benar memahami maksud dari grafik dan data yang diperoleh tersebut.









RUJUKAN PUSTAKA

Burlew, J.S. 1995. Algal Culture from Laboratories to Pilot Plant. Carnegie Institution of
Washington. Washington.

Coutteau, P. 1979. Micro-algae in: Manual on Production and Use of Live Food for Aquakultur. FAO fisheries Technical Papper. Lavens, P and P. Sorgeloos Edition. Rome. Italia.

Erlina, A. Hastuti, W. 1986. Kultur Plankton-BBAP. Ditjen Perikanan. Jepara.

Fabregas, Jaime., dkk. 1984. Growth of Marine Microalga Tetraselmis svecica in Batch Culture with Different Salinities and Concentration. Publisher. B.V. Amsterdam.

Hase, E. 1962. Cell Division. Physiologys and Biochemistry of Algae. Academic Press. New York and London.

Mujiman, Ahmad. 1984. Makanan Ikan. Cetakan 14. Penebar Swadaya. Jakarta. Prescott, G. W. 1978. How to Know The Freshwater Algae. Wne. Brown Company Publisher.

Sachlan, M. 1982. Planktonologi. Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Diponegoro. Semarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar